Kembali ke Daftar

Sekala Brak

Bahasa Indonesia

Jauh sebelum peta modern terbentuk, di puncak tertinggi Lampung, Gunung Pesagi, berdirilah sebuah kerajaan kuno bernama Sekala Brak. Masyarakatnya hidup dalam harmoni dengan alam, namun masih menganut kepercayaan lama yang kental dengan pemujaan pohon Belasa Kepampang (pohon nangka bercabang dua).

Suatu hari di abad ke-13, datanglah empat pangeran dari tanah seberang (Pagaruyung). Mereka membawa pesan baru, sebuah ajaran tentang tauhid. Terjadilah pergulatan antara tradisi lama dan baru. Singkat cerita, peradaban Sekala Brak bertransformasi menjadi Kepaksian Sekala Brak, sebuah kerajaan Islam yang menjadi akar dari seluruh marga Lampung.
Masa Keemasan "Emas Hitam"

Waktu berlalu, dan pusat-pusat kekuatan mulai menyebar ke arah pantai. Lampung menjadi magnet bagi dunia karena satu benda: Lada Hitam.

Bayangkan pelabuhan-pelabuhan di Lampung Timur dan Selatan dipenuhi oleh kapal-kapal besar dari Gujarat, Tiongkok, hingga Eropa. Lada dari Lampung begitu berharga sampai-sampai dijuluki "Emas Hitam".

Kekayaan ini memicu berdirinya Keratuan-Keratuan (kerajaan kecil yang berdaulat). Di pesisir selatan, berdiri Keratuan Darah Putih. Mengapa namanya begitu unik? Konon, pemimpinnya memiliki darah putih sebagai simbol kesucian dan keturunan bangsawan yang luhur. Mereka adalah penjaga gerbang Selat Sunda yang gagah berani.
Diplomasi dan Persaudaraan dengan Banten

Karena letaknya yang berseberangan dengan Pulau Jawa, hubungan antara Lampung dan Kesultanan Banten menjadi sangat intim. Sultan Banten memandang Lampung bukan sebagai jajahan, melainkan sebagai saudara serumpun dan pemasok utama komoditas dunia.

Banyak pemuda Lampung dikirim ke Banten untuk belajar agama dan taktik perang. Sebagai tanda penghormatan, Sultan Banten memberikan gelar-gelar kebangsawanan kepada para pemimpin adat Lampung. Hubungan ini begitu kuat sehingga ketika penjajah mulai menginjakkan kaki, Lampung dan Banten berdiri bahu-membahu.
Perlawanan Terakhir: Radin Intan II

Cerita kerajaan Lampung tidak akan lengkap tanpa menyebut Radin Intan II. Ia bukan sekadar raja dari Keratuan Darah Putih, melainkan simbol perlawanan yang tak kunjung padam.

Saat Belanda mencoba memonopoli perdagangan lada, Radin Intan II yang masih sangat muda memimpin gerilya dari hutan ke hutan. Benteng-benteng pertahanan dibangun di perbukitan. Belanda dibuat frustrasi selama bertahun-tahun. Meskipun kerajaan secara formal ditekan oleh kekuatan militer Barat yang modern, semangat "Piil Pesenggiri" (harga diri dan kehormatan) masyarakat Lampung tak pernah bisa ditaklukkan.
Akhir dari Sebuah Era

Seiring masuknya administrasi kolonial, kekuasaan politik raja-raja dan ratu di Lampung mulai meredup, namun mereka tidak hilang. Kerajaan-kerajaan ini bertransformasi menjadi Lembaga Adat.

Hingga hari ini, "kerajaan" itu masih hidup dalam setiap prosesi pernikahan yang megah, dalam bunyi gamelan talo balak, dan dalam gurat-gurat aksara kuno yang masih dipelajari anak cucu mereka.