Bahasa Indonesia
Alkisah, di masa yang sangat lampau, hiduplah sepasang suami istri di wilayah Teluk Kabui, Waigeo. Sang suami sering pergi ke hutan untuk mencari makanan dan kayu bakar. Suatu hari, saat mereka sedang berjalan di pinggiran sungai, mereka menemukan enam butir telur raksasa yang tersembunyi di dalam sebuah gua batu.
Telur-telur itu tampak berbeda dari telur burung atau hewan apa pun yang pernah mereka lihat. Karena penasaran dan merasa telur itu adalah pemberian alam, mereka membawa pulang telur-telur tersebut dan menyimpannya di dalam sebuah peti kayu.
Keajaiban di Dalam Peti
Malam demi malam berlalu, hingga pada suatu malam yang sunyi, pasutri ini mendengar suara retakan dan bisikan halus dari dalam peti. Betapa terkejutnya mereka saat membuka peti tersebut:
Empat telur telah menetas menjadi empat orang anak laki-laki yang berparas tampan dan gagah.
Satu telur menetas menjadi seorang anak perempuan yang cantik jelita.
Satu telur terakhir tidak menetas, melainkan mengeras menjadi batu.
Pasutri tersebut merawat anak-anak itu dengan penuh kasih sayang. Seiring berjalannya waktu, anak-anak ini tumbuh menjadi sosok yang bijaksana dan memiliki wibawa yang luar biasa, seolah-olah mereka memang dilahirkan untuk memimpin.
Perpisahan dan Terbentuknya Kerajaan
Setelah beranjak dewasa, keempat anak laki-laki tersebut menyadari bahwa mereka memiliki tugas untuk menjaga wilayah Papua. Berdasarkan petunjuk gaib, mereka akhirnya berpisah untuk memimpin pulau-pulau besar yang ada di sekitarnya.
Keempat putra tersebut menjadi raja (Kolano) di wilayah-wilayah berikut:
War menjadi Raja di Waigeo.
Betani menjadi Raja di Salawati.
Duna menjadi Raja di Misool.
Mohamad menjadi Raja di Batanta.
Dari sinilah nama "Raja Ampat" berasal, yang dalam bahasa setempat berarti "Empat Raja". Di bawah kepemimpinan mereka, rakyat hidup makmur, damai, dan saling menghormati antar-pulau.
Nasib Dua Telur Lainnya
Legenda ini juga menceritakan nasib dua telur lainnya yang memberikan warna mistis pada budaya setempat:
Anak Perempuan: Dikisahkan ia diletakkan di dalam sebuah kulit kerang besar dan dihanyutkan ke laut hingga terdampar di Pulau Biak. Ia pun tumbuh di sana dan menjadi leluhur bagi masyarakat di wilayah tersebut.
Telur Menjadi Batu: Telur yang mengeras menjadi batu tersebut kini dikenal sebagai Kape Pale oleh masyarakat lokal. Batu ini diperlakukan dengan sangat hormat dan hingga kini masih disimpan serta dikeramatkan oleh penduduk setempat di Waigeo.
Warisan Sang Raja
Hingga saat ini, masyarakat Raja Ampat masih sangat menghormati legenda ini. Struktur adat dan pembagian wilayah di sana sering kali dikaitkan dengan sejarah para raja tersebut. Legenda ini bukan hanya soal asal-usul pemimpin, tapi juga pesan tentang menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan leluhur.
Telur-telur itu tampak berbeda dari telur burung atau hewan apa pun yang pernah mereka lihat. Karena penasaran dan merasa telur itu adalah pemberian alam, mereka membawa pulang telur-telur tersebut dan menyimpannya di dalam sebuah peti kayu.
Keajaiban di Dalam Peti
Malam demi malam berlalu, hingga pada suatu malam yang sunyi, pasutri ini mendengar suara retakan dan bisikan halus dari dalam peti. Betapa terkejutnya mereka saat membuka peti tersebut:
Empat telur telah menetas menjadi empat orang anak laki-laki yang berparas tampan dan gagah.
Satu telur menetas menjadi seorang anak perempuan yang cantik jelita.
Satu telur terakhir tidak menetas, melainkan mengeras menjadi batu.
Pasutri tersebut merawat anak-anak itu dengan penuh kasih sayang. Seiring berjalannya waktu, anak-anak ini tumbuh menjadi sosok yang bijaksana dan memiliki wibawa yang luar biasa, seolah-olah mereka memang dilahirkan untuk memimpin.
Perpisahan dan Terbentuknya Kerajaan
Setelah beranjak dewasa, keempat anak laki-laki tersebut menyadari bahwa mereka memiliki tugas untuk menjaga wilayah Papua. Berdasarkan petunjuk gaib, mereka akhirnya berpisah untuk memimpin pulau-pulau besar yang ada di sekitarnya.
Keempat putra tersebut menjadi raja (Kolano) di wilayah-wilayah berikut:
War menjadi Raja di Waigeo.
Betani menjadi Raja di Salawati.
Duna menjadi Raja di Misool.
Mohamad menjadi Raja di Batanta.
Dari sinilah nama "Raja Ampat" berasal, yang dalam bahasa setempat berarti "Empat Raja". Di bawah kepemimpinan mereka, rakyat hidup makmur, damai, dan saling menghormati antar-pulau.
Nasib Dua Telur Lainnya
Legenda ini juga menceritakan nasib dua telur lainnya yang memberikan warna mistis pada budaya setempat:
Anak Perempuan: Dikisahkan ia diletakkan di dalam sebuah kulit kerang besar dan dihanyutkan ke laut hingga terdampar di Pulau Biak. Ia pun tumbuh di sana dan menjadi leluhur bagi masyarakat di wilayah tersebut.
Telur Menjadi Batu: Telur yang mengeras menjadi batu tersebut kini dikenal sebagai Kape Pale oleh masyarakat lokal. Batu ini diperlakukan dengan sangat hormat dan hingga kini masih disimpan serta dikeramatkan oleh penduduk setempat di Waigeo.
Warisan Sang Raja
Hingga saat ini, masyarakat Raja Ampat masih sangat menghormati legenda ini. Struktur adat dan pembagian wilayah di sana sering kali dikaitkan dengan sejarah para raja tersebut. Legenda ini bukan hanya soal asal-usul pemimpin, tapi juga pesan tentang menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan leluhur.