Bahasa Indonesia
Cerita bermula ketika La Dana dan seorang temannya melayat ke sebuah pesta kematian (Rambu Solo'). Karena mereka membantu dalam persiapan pesta, sang tuan rumah menghadiahi mereka seekor kerbau yang besar dan gemuk.
Namun, ada satu masalah: kerbau itu hanya satu, sementara mereka berdua. Teman La Dana ingin langsung menyembelih kerbau itu dan membagi dagingnya, tetapi La Dana yang serakah punya rencana lain agar bisa memiliki seluruh kerbau itu sendirian.
Tipu Muslihat La Dana
La Dana kemudian mengusulkan sebuah ide yang terdengar masuk akal tapi sebenarnya jebakan:
"Sahabatku, daripada kita sembelih sekarang dan dagingnya cepat habis, lebih baik kita pelihara dulu sampai kerbau ini lebih besar lagi. Kita bagi bagiannya saja sekarang. Kamu ambil bagian belakang, dan aku bagian depan."
Temannya setuju. Namun, beberapa hari kemudian, La Dana mulai menjalankan aksinya. Ia sengaja memukuli bagian kepala kerbau itu hingga kerbau tersebut mengamuk dan lari ke sana kemari.
Saat temannya protes karena kerbaunya kesakitan, La Dana dengan santai menjawab:
"Ini kan bagian depanku, terserah aku mau apakan. Kalau kamu tidak mau bagian belakangmu ikut terganggu karena dia lari-lari, ya sudah, berikan saja bagianmu padaku."
Si Siasat "Kerbau di Air"
Setelah berhasil memiliki seluruh kerbau, La Dana masih harus berurusan dengan teman-temannya yang lain yang juga ingin meminta bagian.
Suatu hari, saat membawa kerbaunya, ia bertemu dengan sekelompok orang. La Dana berpura-pura bahwa kerbaunya bisa berbicara dan meramal. Ia menenggelamkan kerbaunya ke dalam lumpur/air hingga hanya hidungnya yang terlihat, lalu ia berbisik-bisik seolah sedang berdiskusi dengan si kerbau.
Dengan berbagai trik manipulasi kata-kata, La Dana selalu berhasil meyakinkan orang lain bahwa ia adalah orang yang "benar" secara logika, meskipun sebenarnya ia sedang menipu mereka demi keuntungan pribadi.
Pesan Moral
Cerita La Dana adalah satir tentang kecerdikan yang disalahgunakan. Meskipun La Dana selalu menang karena kepintarannya, cerita ini sering digunakan untuk mengingatkan masyarakat agar:
Jangan mudah percaya pada janji atau tawaran yang terlihat tidak adil sejak awal.
Kecerdikan tanpa integritas hanya akan merugikan orang lain dan menciptakan permusuhan.
Pentingnya memiliki sikap waspada terhadap tipu muslihat.
Namun, ada satu masalah: kerbau itu hanya satu, sementara mereka berdua. Teman La Dana ingin langsung menyembelih kerbau itu dan membagi dagingnya, tetapi La Dana yang serakah punya rencana lain agar bisa memiliki seluruh kerbau itu sendirian.
Tipu Muslihat La Dana
La Dana kemudian mengusulkan sebuah ide yang terdengar masuk akal tapi sebenarnya jebakan:
"Sahabatku, daripada kita sembelih sekarang dan dagingnya cepat habis, lebih baik kita pelihara dulu sampai kerbau ini lebih besar lagi. Kita bagi bagiannya saja sekarang. Kamu ambil bagian belakang, dan aku bagian depan."
Temannya setuju. Namun, beberapa hari kemudian, La Dana mulai menjalankan aksinya. Ia sengaja memukuli bagian kepala kerbau itu hingga kerbau tersebut mengamuk dan lari ke sana kemari.
Saat temannya protes karena kerbaunya kesakitan, La Dana dengan santai menjawab:
"Ini kan bagian depanku, terserah aku mau apakan. Kalau kamu tidak mau bagian belakangmu ikut terganggu karena dia lari-lari, ya sudah, berikan saja bagianmu padaku."
Si Siasat "Kerbau di Air"
Setelah berhasil memiliki seluruh kerbau, La Dana masih harus berurusan dengan teman-temannya yang lain yang juga ingin meminta bagian.
Suatu hari, saat membawa kerbaunya, ia bertemu dengan sekelompok orang. La Dana berpura-pura bahwa kerbaunya bisa berbicara dan meramal. Ia menenggelamkan kerbaunya ke dalam lumpur/air hingga hanya hidungnya yang terlihat, lalu ia berbisik-bisik seolah sedang berdiskusi dengan si kerbau.
Dengan berbagai trik manipulasi kata-kata, La Dana selalu berhasil meyakinkan orang lain bahwa ia adalah orang yang "benar" secara logika, meskipun sebenarnya ia sedang menipu mereka demi keuntungan pribadi.
Pesan Moral
Cerita La Dana adalah satir tentang kecerdikan yang disalahgunakan. Meskipun La Dana selalu menang karena kepintarannya, cerita ini sering digunakan untuk mengingatkan masyarakat agar:
Jangan mudah percaya pada janji atau tawaran yang terlihat tidak adil sejak awal.
Kecerdikan tanpa integritas hanya akan merugikan orang lain dan menciptakan permusuhan.
Pentingnya memiliki sikap waspada terhadap tipu muslihat.