Bahasa Indonesia
Dahulu kala di sebuah desa di pinggir Sungai Mahakam, hiduplah sepasang suami istri dengan dua orang anak, laki-laki dan perempuan. Keluarga ini hidup sangat rukun dan bahagia. Namun, kebahagiaan itu sirna ketika sang ibu jatuh sakit dan meninggal dunia.
Kepergian sang ibu membuat sang ayah sangat terpukul dan anak-anaknya kehilangan arah. Melihat kondisi rumah yang terbengkalai, sang ayah akhirnya memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang wanita.
Kehadiran Ibu Tiri yang Kejam
Awalnya, sang ibu tiri bersikap manis. Namun, sifat aslinya perlahan muncul. Ia sangat malas dan sering menyiksa kedua anak tirinya saat sang ayah sedang bekerja di hutan.
Puncaknya terjadi ketika musim kemarau panjang. Sang ibu tiri menyuruh kedua anak tersebut mencari kayu bakar di hutan dalam jumlah yang sangat banyak. Ia mengancam tidak akan memberi mereka makan jika tugas itu belum selesai.
Peristiwa di Dapur
Setelah berhari-hari di hutan tanpa makan yang cukup, kedua anak itu pulang membawa tumpukan kayu bakar. Karena sangat lapar dan tidak menemukan siapa pun di rumah, mereka pergi ke dapur dan menemukan seperiuk besar bubur panas yang sedang dimasak.
Tanpa pikir panjang, karena rasa lapar yang amat sangat, mereka memakan bubur panas itu dengan rakus. Namun, ada yang aneh:
Suhu tubuh mereka tiba-tiba naik drastis.
Kulit mereka mulai terasa terbakar dan melepuh.
Mereka merasa kehausan yang luar biasa.
Penjelmaan Menjadi Pesut
Dalam keadaan kepanasan, mereka berlari menuju Sungai Mahakam dan langsung menceburkan diri. Sang ayah yang baru pulang terkejut melihat kedua anaknya melompat ke air.
Keajaiban (atau kutukan) terjadi. Begitu menyentuh air, tubuh kedua anak itu tidak lagi muncul sebagai manusia. Alih-alih, muncul dua ekor hewan air berwarna abu-abu yang menyemburkan air dari kepalanya dan terus berenang menjauh ke tengah sungai.
Sang ayah hanya bisa menangis melihat kedua anaknya telah berubah menjadi hewan yang kini dikenal sebagai Pesut Mahakam.
Pesan Moral
Legenda ini membawa pesan yang mendalam bagi masyarakat setempat:
Kasih Sayang: Pentingnya memperlakukan anak-anak (terutama anak yatim) dengan kasih sayang.
Keserakahan: Akibat buruk dari sifat iri hati dan kekejaman seorang ibu tiri.
Pelestarian: Hingga kini, masyarakat Kutai sangat menghormati Pesut dan menganggap mereka sebagai "saudara" yang tidak boleh disakiti.
Kepergian sang ibu membuat sang ayah sangat terpukul dan anak-anaknya kehilangan arah. Melihat kondisi rumah yang terbengkalai, sang ayah akhirnya memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang wanita.
Kehadiran Ibu Tiri yang Kejam
Awalnya, sang ibu tiri bersikap manis. Namun, sifat aslinya perlahan muncul. Ia sangat malas dan sering menyiksa kedua anak tirinya saat sang ayah sedang bekerja di hutan.
Puncaknya terjadi ketika musim kemarau panjang. Sang ibu tiri menyuruh kedua anak tersebut mencari kayu bakar di hutan dalam jumlah yang sangat banyak. Ia mengancam tidak akan memberi mereka makan jika tugas itu belum selesai.
Peristiwa di Dapur
Setelah berhari-hari di hutan tanpa makan yang cukup, kedua anak itu pulang membawa tumpukan kayu bakar. Karena sangat lapar dan tidak menemukan siapa pun di rumah, mereka pergi ke dapur dan menemukan seperiuk besar bubur panas yang sedang dimasak.
Tanpa pikir panjang, karena rasa lapar yang amat sangat, mereka memakan bubur panas itu dengan rakus. Namun, ada yang aneh:
Suhu tubuh mereka tiba-tiba naik drastis.
Kulit mereka mulai terasa terbakar dan melepuh.
Mereka merasa kehausan yang luar biasa.
Penjelmaan Menjadi Pesut
Dalam keadaan kepanasan, mereka berlari menuju Sungai Mahakam dan langsung menceburkan diri. Sang ayah yang baru pulang terkejut melihat kedua anaknya melompat ke air.
Keajaiban (atau kutukan) terjadi. Begitu menyentuh air, tubuh kedua anak itu tidak lagi muncul sebagai manusia. Alih-alih, muncul dua ekor hewan air berwarna abu-abu yang menyemburkan air dari kepalanya dan terus berenang menjauh ke tengah sungai.
Sang ayah hanya bisa menangis melihat kedua anaknya telah berubah menjadi hewan yang kini dikenal sebagai Pesut Mahakam.
Pesan Moral
Legenda ini membawa pesan yang mendalam bagi masyarakat setempat:
Kasih Sayang: Pentingnya memperlakukan anak-anak (terutama anak yatim) dengan kasih sayang.
Keserakahan: Akibat buruk dari sifat iri hati dan kekejaman seorang ibu tiri.
Pelestarian: Hingga kini, masyarakat Kutai sangat menghormati Pesut dan menganggap mereka sebagai "saudara" yang tidak boleh disakiti.