Bahasa Indonesia
Lahir prematur pada hari Natal tahun 1642 di Woolsthorpe, Inggris, Newton kecil dianggap tidak punya masa depan besar. Ayahnya wafat sebelum ia lahir, dan ibunya meninggalkannya bersama neneknya untuk menikah lagi.
Alih-alih bermain bola atau bergaul, Newton lebih suka menyendiri di bengkel kerjanya. Ia membuat jam matahari yang sangat akurat, kincir angin model, hingga lampion kertas yang diterbangkan malam hari (yang sempat membuat tetangganya mengira itu adalah UFO).
Keajaiban di Tengah Pandemi
Titik balik hidupnya terjadi pada tahun 1665. Saat itu, Wabah Besar (The Great Plague) melanda London. Universitas Cambridge ditutup, dan Newton terpaksa pulang ke rumah peternakannya.
Di masa isolasi inilah—saat dunia sedang dicekam ketakutan—pikiran Newton justru meledak. Dalam kurun waktu 18 bulan yang disebut sebagai Annus Mirabilis (Tahun Keajaiban), ia berhasil:
Menemukan Kalkulus: Matematika baru untuk menghitung perubahan.
Teori Cahaya: Membuktikan bahwa cahaya putih sebenarnya terdiri dari pelangi warna menggunakan prisma.
Gravitasi: Mengamati apel jatuh dan bertanya, "Kenapa apel jatuh ke bawah, bukan ke samping atau ke atas?"
"Principia" dan Hukum Semesta
Pada 1687, ia menerbitkan mahakaryanya, Philosophiæ Naturalis Principia Mathematica. Di sinilah ia merumuskan tiga hukum gerak yang hingga kini masih dipelajari setiap anak sekolah di dunia:
Hukum I (Inersia): Benda malas bergerak kecuali dipaksa.
Hukum II (F=ma): Hubungan antara gaya, massa, dan percepatan.
Hukum III (Aksi-Reaksi): Setiap ada dorongan, ada dorongan balik yang sama kuat.
Ia membuktikan bahwa kekuatan yang menarik apel ke tanah adalah kekuatan yang sama yang menjaga Bulan tetap pada orbitnya di sekitar Bumi. Ia menyatukan Bumi dan Langit dalam satu hukum fisika yang pasti.
Sisi Lain Sang Jenius
Newton bukanlah sosok yang selalu ramah. Ia sangat sensitif terhadap kritik, sering bertengkar dengan ilmuwan lain (seperti Robert Hooke dan Leibniz), dan sangat terobsesi dengan alkimia serta teologi.
Menjelang akhir hayatnya, ia merangkum pencapaiannya dengan sangat rendah hati:
"Aku tidak tahu bagaimana dunia memandangku; tapi bagiku sendiri, aku hanyalah seorang anak kecil yang bermain di pantai... sementara samudra kebenaran yang luas terbentang di hadapanku tanpa terjamah."
Newton wafat pada 1727 dan menjadi ilmuwan pertama yang dimakamkan di Westminster Abbey dengan upacara kenegaraan layaknya seorang raja. Karena memang, ia adalah raja dari fisika klasik.
Alih-alih bermain bola atau bergaul, Newton lebih suka menyendiri di bengkel kerjanya. Ia membuat jam matahari yang sangat akurat, kincir angin model, hingga lampion kertas yang diterbangkan malam hari (yang sempat membuat tetangganya mengira itu adalah UFO).
Keajaiban di Tengah Pandemi
Titik balik hidupnya terjadi pada tahun 1665. Saat itu, Wabah Besar (The Great Plague) melanda London. Universitas Cambridge ditutup, dan Newton terpaksa pulang ke rumah peternakannya.
Di masa isolasi inilah—saat dunia sedang dicekam ketakutan—pikiran Newton justru meledak. Dalam kurun waktu 18 bulan yang disebut sebagai Annus Mirabilis (Tahun Keajaiban), ia berhasil:
Menemukan Kalkulus: Matematika baru untuk menghitung perubahan.
Teori Cahaya: Membuktikan bahwa cahaya putih sebenarnya terdiri dari pelangi warna menggunakan prisma.
Gravitasi: Mengamati apel jatuh dan bertanya, "Kenapa apel jatuh ke bawah, bukan ke samping atau ke atas?"
"Principia" dan Hukum Semesta
Pada 1687, ia menerbitkan mahakaryanya, Philosophiæ Naturalis Principia Mathematica. Di sinilah ia merumuskan tiga hukum gerak yang hingga kini masih dipelajari setiap anak sekolah di dunia:
Hukum I (Inersia): Benda malas bergerak kecuali dipaksa.
Hukum II (F=ma): Hubungan antara gaya, massa, dan percepatan.
Hukum III (Aksi-Reaksi): Setiap ada dorongan, ada dorongan balik yang sama kuat.
Ia membuktikan bahwa kekuatan yang menarik apel ke tanah adalah kekuatan yang sama yang menjaga Bulan tetap pada orbitnya di sekitar Bumi. Ia menyatukan Bumi dan Langit dalam satu hukum fisika yang pasti.
Sisi Lain Sang Jenius
Newton bukanlah sosok yang selalu ramah. Ia sangat sensitif terhadap kritik, sering bertengkar dengan ilmuwan lain (seperti Robert Hooke dan Leibniz), dan sangat terobsesi dengan alkimia serta teologi.
Menjelang akhir hayatnya, ia merangkum pencapaiannya dengan sangat rendah hati:
"Aku tidak tahu bagaimana dunia memandangku; tapi bagiku sendiri, aku hanyalah seorang anak kecil yang bermain di pantai... sementara samudra kebenaran yang luas terbentang di hadapanku tanpa terjamah."
Newton wafat pada 1727 dan menjadi ilmuwan pertama yang dimakamkan di Westminster Abbey dengan upacara kenegaraan layaknya seorang raja. Karena memang, ia adalah raja dari fisika klasik.