Bahasa Indonesia
Lahir tepat 300 tahun setelah kematian Galileo Galilei, Stephen Hawking muda adalah seorang mahasiswa yang cerdas namun agak santai di Universitas Oxford. Ia dikenal sebagai sosok yang sangat pintar hingga mampu menyelesaikan tugas mingguan yang sulit hanya dalam hitungan jam, sementara teman-temannya butuh waktu berhari-hari.
Namun, saat memasuki usia 21 tahun ketika ia mulai menempuh studi pascasarjana di Cambridge, hidupnya berubah selamanya.
Vonis dan Tantangan Terberat
Stephen mulai merasa tubuhnya mengkhianatinya. Ia sering tersandung dan bicaranya mulai tidak jelas. Setelah serangkaian tes, dokter mendiagnosisnya dengan ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis), sebuah penyakit saraf motorik.
"Kamu hanya punya waktu dua tahun untuk hidup," kata para dokter saat itu.
Bayangkan menjadi pemuda berbakat yang baru saja jatuh cinta pada seorang wanita bernama Jane Wilde, lalu diberi tahu bahwa hidupmu akan segera berakhir. Stephen sempat depresi, namun cinta Jane dan rasa penasarannya yang besar terhadap alam semesta membuatnya bangkit.
Menjelajahi Lubang Hitam
Alih-alih menyerah, Stephen justru semakin "gila" dalam bekerja. Karena ia kehilangan kemampuan untuk menulis atau mengetik, ia melatih otaknya untuk memvisualisasikan persamaan matematika yang rumit dalam bentuk geometri di pikirannya.
Hasilnya luar biasa. Ia membuktikan salah satu teori paling radikal: Lubang Hitam (Black Holes) ternyata tidak sepenuhnya hitam. Ia menemukan bahwa lubang hitam memancarkan radiasi, yang kini kita kenal sebagai Radiasi Hawking. Persamaan terkenalnya menggabungkan mekanika kuantum dengan relativitas umum:
S=4Gℏkc3A
Suara Ikonik dari Kotak Ajaib
Pada tahun 1985, Stephen kehilangan suaranya sepenuhnya setelah operasi trakeostomi akibat pneumonia. Sejak saat itu, ia berkomunikasi menggunakan komputer dengan suara elektronik yang kini menjadi ciri khasnya. Meski suaranya terdengar kaku seperti robot, Stephen justru menyukainya dan menolak menggantinya dengan suara yang lebih "manusiawi," karena suara itu telah menjadi identitasnya.
Ia menulis buku A Brief History of Time (Sejarah Singkat Waktu) yang laku jutaan eksemplar di seluruh dunia. Ia ingin orang awam memahami betapa indahnya alam semesta, tanpa perlu menjadi profesor fisika.
Akhir Perjalanan di Antara Bintang
Stephen Hawking melampaui prediksi dokter selama lebih dari 50 tahun. Ia berkeliling dunia, bertemu Paus, terbang di pesawat gravitasi nol, bahkan muncul di serial The Big Bang Theory dan The Simpsons.
Ia meninggal pada 14 Maret 2018 (tepat pada hari ulang tahun Albert Einstein). Abunya dimakamkan di Westminster Abbey, di antara makam Isaac Newton dan Charles Darwin.
Namun, saat memasuki usia 21 tahun ketika ia mulai menempuh studi pascasarjana di Cambridge, hidupnya berubah selamanya.
Vonis dan Tantangan Terberat
Stephen mulai merasa tubuhnya mengkhianatinya. Ia sering tersandung dan bicaranya mulai tidak jelas. Setelah serangkaian tes, dokter mendiagnosisnya dengan ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis), sebuah penyakit saraf motorik.
"Kamu hanya punya waktu dua tahun untuk hidup," kata para dokter saat itu.
Bayangkan menjadi pemuda berbakat yang baru saja jatuh cinta pada seorang wanita bernama Jane Wilde, lalu diberi tahu bahwa hidupmu akan segera berakhir. Stephen sempat depresi, namun cinta Jane dan rasa penasarannya yang besar terhadap alam semesta membuatnya bangkit.
Menjelajahi Lubang Hitam
Alih-alih menyerah, Stephen justru semakin "gila" dalam bekerja. Karena ia kehilangan kemampuan untuk menulis atau mengetik, ia melatih otaknya untuk memvisualisasikan persamaan matematika yang rumit dalam bentuk geometri di pikirannya.
Hasilnya luar biasa. Ia membuktikan salah satu teori paling radikal: Lubang Hitam (Black Holes) ternyata tidak sepenuhnya hitam. Ia menemukan bahwa lubang hitam memancarkan radiasi, yang kini kita kenal sebagai Radiasi Hawking. Persamaan terkenalnya menggabungkan mekanika kuantum dengan relativitas umum:
S=4Gℏkc3A
Suara Ikonik dari Kotak Ajaib
Pada tahun 1985, Stephen kehilangan suaranya sepenuhnya setelah operasi trakeostomi akibat pneumonia. Sejak saat itu, ia berkomunikasi menggunakan komputer dengan suara elektronik yang kini menjadi ciri khasnya. Meski suaranya terdengar kaku seperti robot, Stephen justru menyukainya dan menolak menggantinya dengan suara yang lebih "manusiawi," karena suara itu telah menjadi identitasnya.
Ia menulis buku A Brief History of Time (Sejarah Singkat Waktu) yang laku jutaan eksemplar di seluruh dunia. Ia ingin orang awam memahami betapa indahnya alam semesta, tanpa perlu menjadi profesor fisika.
Akhir Perjalanan di Antara Bintang
Stephen Hawking melampaui prediksi dokter selama lebih dari 50 tahun. Ia berkeliling dunia, bertemu Paus, terbang di pesawat gravitasi nol, bahkan muncul di serial The Big Bang Theory dan The Simpsons.
Ia meninggal pada 14 Maret 2018 (tepat pada hari ulang tahun Albert Einstein). Abunya dimakamkan di Westminster Abbey, di antara makam Isaac Newton dan Charles Darwin.