Bahasa Indonesia
Di Desa Girah, hiduplah seorang janda sakti bernama Calon Arang. Ia adalah penganut taat Dewi Durga yang menguasai ilmu sihir hitam tingkat tinggi. Calon Arang memiliki seorang putri cantik jelita bernama Ratna Manggali. Namun, kecantikan itu seolah tertutup oleh bayang-bayang ibunya; tidak ada pemuda yang berani melamar sang putri karena takut akan kekuatan sihir Calon Arang. Hal ini menyulut kemarahan besar di hati sang janda, yang merasa martabat keluarganya telah dihina oleh penduduk desa.
Wabah dan Kematian
Sebagai bentuk pembalasan dendam, Calon Arang merapal kutukan di kuburan dalam sebuah ritual yang mengerikan. Tak lama kemudian, wabah penyakit (pagebluk) menyerang Kerajaan Kahuripan. Rakyat mati bergelimpangan dalam waktu singkat, dan pengobatan apa pun tidak mampu menahan laju maut. Suasana mencekam menyelimuti negeri, hingga kabar duka tersebut sampai ke telinga Raja Airlangga.
Strategi Empu Bharada
Raja Airlangga yang merasa prihatin kemudian meminta bantuan kepada pendeta sakti, Empu Bharada. Sang Empu menyadari bahwa kekuatan Calon Arang berasal dari sebuah kitab rahasia. Ia pun menyusun rencana cerdik dengan mengutus muridnya, Empu Bahula, untuk melamar Ratna Manggali. Calon Arang menyambut baik lamaran tersebut. Setelah resmi menjadi bagian dari keluarga, Empu Bahula berhasil menemukan tempat persembunyian Kitab Sihir milik mertuanya dan segera menyerahkannya kepada Empu Bharada.
Pertempuran Terakhir
Setelah mempelajari kelemahan Calon Arang melalui kitab tersebut, Empu Bharada mendatangi Desa Girah. Ia mencoba membujuk sang janda untuk bertobat dan membersihkan diri, namun Calon Arang yang murka justru menantang sang pendeta bertarung. Perkelahian dahsyat terjadi; Calon Arang berubah wujud menjadi sosok Rangda yang sangat menyeramkan. Meski memiliki kekuatan luar biasa, Calon Arang akhirnya berhasil dikalahkan. Sebelum wafat, Empu Bharada menyucikan jiwa sang janda agar ia dapat menemukan kedamaian di alam sana.
Simbolisme Budaya
Hingga saat ini, kisah ini terus hidup dalam tradisi Bali melalui tarian Barong dan Rangda, yang menggambarkan pertempuran abadi antara Dharma (kebajikan) dan Adharma (keburukan).
Wabah dan Kematian
Sebagai bentuk pembalasan dendam, Calon Arang merapal kutukan di kuburan dalam sebuah ritual yang mengerikan. Tak lama kemudian, wabah penyakit (pagebluk) menyerang Kerajaan Kahuripan. Rakyat mati bergelimpangan dalam waktu singkat, dan pengobatan apa pun tidak mampu menahan laju maut. Suasana mencekam menyelimuti negeri, hingga kabar duka tersebut sampai ke telinga Raja Airlangga.
Strategi Empu Bharada
Raja Airlangga yang merasa prihatin kemudian meminta bantuan kepada pendeta sakti, Empu Bharada. Sang Empu menyadari bahwa kekuatan Calon Arang berasal dari sebuah kitab rahasia. Ia pun menyusun rencana cerdik dengan mengutus muridnya, Empu Bahula, untuk melamar Ratna Manggali. Calon Arang menyambut baik lamaran tersebut. Setelah resmi menjadi bagian dari keluarga, Empu Bahula berhasil menemukan tempat persembunyian Kitab Sihir milik mertuanya dan segera menyerahkannya kepada Empu Bharada.
Pertempuran Terakhir
Setelah mempelajari kelemahan Calon Arang melalui kitab tersebut, Empu Bharada mendatangi Desa Girah. Ia mencoba membujuk sang janda untuk bertobat dan membersihkan diri, namun Calon Arang yang murka justru menantang sang pendeta bertarung. Perkelahian dahsyat terjadi; Calon Arang berubah wujud menjadi sosok Rangda yang sangat menyeramkan. Meski memiliki kekuatan luar biasa, Calon Arang akhirnya berhasil dikalahkan. Sebelum wafat, Empu Bharada menyucikan jiwa sang janda agar ia dapat menemukan kedamaian di alam sana.
Simbolisme Budaya
Hingga saat ini, kisah ini terus hidup dalam tradisi Bali melalui tarian Barong dan Rangda, yang menggambarkan pertempuran abadi antara Dharma (kebajikan) dan Adharma (keburukan).